
Dunia investasi sedang dihebohkan oleh sebuah kenyataan pahit: Bitcoin yang selama ini dijuluki sebagai “Emas Digital,” ternyata mulai kehilangan taringnya sebagai pelindung nilai. Banyak investor, mulai dari anak muda yang baru terjun ke kripto hingga pemain lama di pasar modal, awalnya percaya bahwa Bitcoin adalah aset mandiri yang tidak akan ikut tumbang saat bursa saham rontok. Namun, sebuah studi mendalam dari Rashid dkk. (2023) mengungkap fakta yang justru berbanding terbalik, di mana mereka menemukan bahwa pergerakan harga Bitcoin kini semakin “seirama” dengan naik-turunnya indeks saham global.
Kenyataan ini menjadi peringatan serius bagi siapa pun yang mengisi dompet investasinya dengan aset digital demi mencari keamanan. Berdasarkan analisis ilmiah menggunakan metode Markov regime-switching regression, para peneliti menemukan sebuah pola yang konsisten dan cukup mengkhawatirkan:
“Bitcoin appears to be strikingly positively associated with equity markets in both regimes” — Rashid et al. (2023)
Kutipan tersebut menegaskan bahwa baik dalam kondisi pasar yang sedang ceria (bullish) maupun saat kondisi ekonomi sedang mencekam (bearish), Bitcoin cenderung mengikuti ke mana pun arah pasar saham bergerak. Jika saham-saham di Amerika Serikat atau bursa global lainnya terjun bebas, besar kemungkinan Bitcoin akan ikut terseret ke lubang yang sama, sehingga fungsi utamanya sebagai penyeimbang risiko atau safe haven menjadi sangat terbatas bagi para pemodal.
Kondisi ini sangat kontras jika kita melirik emas, sang “raja” aset pelindung tradisional yang terbukti jauh lebih setia dalam menjaga kekayaan. Emas tetap menunjukkan karakter yang stabil dengan korelasi yang negatif atau bahkan tidak terpengaruh sama sekali oleh guncangan pasar saham, menjadikannya pilihan yang lebih rasional untuk diversifikasi dibandingkan Bitcoin yang masih sangat emosional. Ketidakmampuan Bitcoin untuk berdiri sendiri di atas kaki sendiri ini pun semakin terlihat jelas dalam catatan Ballis dkk. (2025), yang membedah perilaku pasar selama masa kritis seperti pandemi COVID-19 serta pecahnya konflik besar di Ukraina dan Israel-Palestina.
Menariknya, meskipun volume transaksi Bitcoin melonjak drastis pasca-pandemi karena banyak orang menganggapnya sebagai pelarian digital yang aman, data harga justru berbicara sebaliknya. Ada jurang yang lebar antara narasi “hebat” yang beredar di media sosial dengan realita pergerakan harga yang masih sangat rapuh dan bergantung pada sentimen spekulatif. Hal ini menjadi pengingat berharga, terutama dalam prinsip ekonomi syariah atau keuangan yang berhati-hati, bahwa instrumen investasi yang paling tangguh tetaplah yang memiliki landasan pada aset riil dan nilai produktif, bukan sekadar likuiditas yang bergerak liar mengikuti arus kepanikan pasar dunia.
